mBlender Sunday, Apr 12 2009 

Semester akhir perkuliahan kukira tinggal TA aja, eh.. ndak taunya masih ada 3 mata kuliah lagi. Topik khusus, Bahasa Inggris 4, dan Multimedia 2. Aduh.. multimedia lagi. Perasaanku mulai ndak enak. Kenapa ya? Ah, paling juga nanti pake Flash.

Perkiraanku meleset. Mr Haristlian ndak ngajar pake Flash tapi pake Blender. Ternyata selain buat jus, Blender bisa dipake bikin animasi juga loh.. :nohope: Bukan. Blender yang ini adalah software semacam 3DMax. Bedanya dia lebih ringan dan free. Ringan sih.. Tapi bagi Naga Biru (baca: notebookku), tidak sama sekali. Maklum lah.. emang Naga Biru sudah saatnya pensiun. Kalo dipaksain malah nanti bikin emosi sepanjang jalan. Ndak mau gerak, atau justru lebih parah lagi, die with no shutdown. Argh.. dan akhirnya perasaan ndak enak itu telah terbukti. Terima kasih pada Si Suaib (baca: Haji Ibnu Subajul) karena kebaikanhatinya meminjamkan Curpit-nya (baca: notebooknya) padaku selama aku menjalani siksaan (baca: perkuliahan) ini.

Tak terasa saatnya UAS. Adalah membuat animasi minimal 10 detik dengan 25 fps (berarti 250 frame) berisi minimal sebuah tongkat dengan 5 buah ruas berwarna-warni yang bergerak melewati rintangan berupa ketinggian atau lembah. UAS ini bersifat take home. Tentu saja dikasih dead line, 5 hari. Terlambat 1 jam, point berkurang 25. Fyuh.. Bikin apa yah? Mm.. bikin TA dulu. Ya, bikin TA dulu, waktunya kan masih lama sedangkan progress TA-ku masih 0%. Padahal lusa mau bimbingan ke dosen. :’(

Dead line semakin dekat. TA sudah ada progressnya. Saatnya mBlender. Buat story board dulu ah.. Dalam membuat animasi, story board adalah hal yang wajib. Bila ndak, nanti bisa kacau animasinya. Bikin yang sederhana saja lah.. Orang lari melompati balok, mendarat di bibir jurang, akhirnya terperosok ke jurang dan merosot secara melambung gaya putar. (Wakaka.. katanya sederhana???) Ternyata “terperosok ke jurang dan merosot secara melambung gaya putar”-nya terlalu sulit. Kuganti dengan jatuh menggelinding ke jurang. Agar durasinya sesuai, kutambah efek (alah..) jatuh kesandung saat lari sebelum melompati balok.

Malam itu, hari Minggu kuawali mBlenderku dengan menculik Si Curpit. Jam 19:30 – 03:00 kuhabiskan waktu bersama si Curpit. Pagi itu animasiku berakhir pada pendaratan di bibir jurang. Hasilnya masih belum memenuhi kriteria minimal, masih 200 frame. Belum ada spotlight dan juga belum ada animasi kamera untuk fokus ke orang.

mBlender

14.30 keesokan harinya kulanjutkan lagi mBlender hingga final result, Jam 24.30. Animasi sudah sesuai story board. Durasinya kebanyakan, 12 detik. Matahari terlalu terang membuat spotlight tidak begitu terlihat. Tapi gpp, hasil ini sudah membuatku cukup puas karena dengan ini, mata kuliah multimedia telah berakhir. Alhamdulillah…

Berikut ini adalah cuplikan adegannya:

Stage 1

Stage 2

Stage 3

Stage 4

Stage 5

Goodbye Honey… Saturday, Feb 14 2009 

Lima tahun sudah aku bersamanya. Hari ini ada yang beda padanya. Bila dilihat sekilas memang tidak begitu kentara. Namun setelah kuperhatikan baik-baik ternyata memang ada sesuatu yang beda. Mati aku! Perutnya membuncit. Kok bisa bunting yah? apa karena tanganku yang terlalu sering membelainya? atau karena kecupan di wajahnya waktu itu? Ah, ciuman itu kan cuma sekali. Atau jangan-jangan… Tidak, aku tidak boleh berprasangka buruk. Bagaimanapun juga akulah yang bersalah karena dia adalah milikku. Mungkin karena ketidaksengajaan perbuatanku padanya kala ku bersamanya. Mm… tak apalah, toh buncitnya masih kecil.

Bergantinya waktu membuat perutnya sedikit membesar. Dan aku pun semakin bosan. Ingin sekali kucari penggantinya. Bagaimana tidak, kondisinya membuatnya tak dapat bertahan lama ketika ada dalam genggamanku. Honey, maafkan aku yang telah berniat mencari penggantimu. Namun saat ini tak ada niat di hati untuk meninggalkanmu. Percayalah padaku.

Satu hari hunting, tlah kutemukan sosok yang lebih cantik, lebih kinclong, lebih sexy, dan lebih menawan. Aku pun tertarik padanya. Tak sulit untuk bisa mendapatkannya. Dan hari itu, 21 Desember, aku resmi menduakan Honeyku. Oh Honey, sekali lagi aku mohon maaf…

Hari-hariku terasa sangat indah bersama honey baru. Hingga suatu saat ibuku menanyakan keadaan honey. Ya Allah… saking asyiknya dengan honey baru, aku pun terlupa akan honey yang telah kutidurkan di dalam kamar milik honey baru. Kujenguk dia. Masya Allah… seberapa lama kutinggalkan dia hingga perutnya sebesar ini? Dengan memasang wajah panik, teman-teman kos kutanya lokasi bidan terdekat. Tampak wajah bingung campur heran mereka balik bertanya: “Bidan???”.

Samsung SGH X-100 adalah nama honey. Aku sangat sayang padanya. Kasih sayang itu bisa dilihat dari chasing yang tak halus lagi karena terlalu sering kubelai. Selain itu, di layarnya juga ada tanda permanen berbentuk bibir. Hehe… Tak tau dari mana itu berasal :P . Pernah ada satu temanku yang meminta untuk menjual padanya. Tapi aku menolaknya. Karena sejak dulu aku memang sudah berjanji untuk tidak menjualnya bila saatnya tiba (bosan, butuh yang baru, atau rusak), tapi akan kuhadiahkan pada seseorang. Seseorang itu bisa sodara, sohib, teman, atau orang gila di pinggir jalan. Pokoknya tidak dijual. Karena kondisinya sudah seperti itu dan aku pun juga sudah ada yang kedua (sebut saja namanya SE-W580i), dia jadi tak ada manfaat. Coba kuberikan pada teman di rumah yang baru saja menjual ponselnya. Ditolak. Hiks… Dan kemarin, akhirnya kulepas dia di tangan adik sepupuku. Alhamdulillah… Semoga dia bermanfaat bagimu Bro.. :)

Goodbye Honey…

No more drama.

Dzikir Bersama Ust. Haryono Buat Palestina Saturday, Feb 14 2009 

Sedih rasanya melihat berita-berita tentang Palestina di TV. Apalagi korbannya adalah anak kecil. Duch… pengen nangis. Biadab memang kaum Bani Isroil itu. Kok bisa-bisanya memperlakukan seperti itu kepada warga asli pulau. Menjajah, menganiaya membabi buta dan menggerogoti wilayah hingga tersisa 20% saja. Apa itu untuk pelampiasan kekesalanmu terhadap Hitler untuk perlakuannya terhadapmu dulu?

Butuh Bantuan? Jelas. MUI Jember membuka pendaftaran laskar jihad untuk Palestina. Dengan dibekali ilmu bela diri dan ilmu kanuragan mereka siap berangkat dan berjuang membantu saudara yang terdlolimi. Tapi, sepertinya akan sia-sia. Apa mereka bisa masuk ke Jalur Gaza? Terus apa yang bisa aku lakukan??

Waktu itu kulihat foto-foto korban dan puing-puing hasil serangan Israel di Palestina dikemas manis secara slide show, ditampilkan di antara iklan-iklan komersial JTV. Informasinya tak lain adalah mengajak masyarakat untuk mengikuti dzikir bersama Ustadz Haryono buat Palestina pada hari Minggu yang bertempatkan di Masjid Al-Akbar Surabaya.
“Ikut ah…”
“Kamu mau ikut?” Tanya bapak.
“Iya, pengen.” Jawabku.
“Berangkat jam berapa? Lamongan – Sby paling nggak butuh 2 jam. Acaranya jam 6 pagi loh…! “
“Ya gpp, nanti kan bisa berangkat pada hari sebelumnya, trus nginap di tempat teman.”
“Tapi bapak mau ke Jogja. Berangkat Jumat malam, pulang Minggu pagi. Nanti kasihan ibu sendirian di rumah.”
“Aduh !!” Akhirnya kuputuskan untuk berangkat pada hari H. Bisakah aku bangun sepagi itu?? :-?

Sebenarnya ibu juga pengen ikut. Tapi niatnya buat kesehatan, bukan buat Palestina (Ust. Haryono kan terkenal dengan dzikir penyembuhan). Sayang aku ndak bisa bawa mobil jadi ndak bisa ngajak ibu (SIM aja masih kelas C). Ndak mungkin kalo ibu naik motor hingga sejauh itu.

Hari Jumat. Ibu sakit :( . Keberangkatan bapak ke Jogja membuatku tidak bisa meninggalkan ibu yang sedang sakit. Ditambah lagi nasehat bapak sebelum berangkat untuk mengurungkan niatku dan merawat ibu di rumah. Semakin pupus harapanku tuk ikut acara itu. Sedih.

Hari Sabtu. Ibu belum sembuh. :(

Sabtu malam.
“Besok jadi?” Tanya ibu.
“Ndak tau. Mungkin tidak.” Jawabku.
“Berangkatlah.”
“Lalu ibu bagaimana?”
“Gpp, berangkatlah. Jangan lupa doakan ibu ya..” Pintanya.
“Insya Allah.”

Minggu pagi. Jam 3 pagi aku terbangun dari lelap. Tumben. Rasanya seperti dibangunkan malaikat. Setelah beberapa saat, aku sadar ternyata yang membangunkanku adalah alarm ponsel. Wekeke… Kupanasi mesin motor. Mandi. Mau sarapan, males. Ibu bangun juga. Kutanyakan sekali lagi untuk memastikan tidak apa-apa kalau kutinggal. Positif.
“Berangkat Buk… Assalamu’alaykum.” Pamitku sambil kucium tangannya.
“Wa’alaykum salam. Hati-hati! Jangan ngebut! Telat gpp kok..”
“Insya Allah.”
Brum.. Jam setengan empat aku berangkat.

Sepi. Kupacu GL Max tahun ’99 punya bapak di kesunyian pagi. Hanya ada beberapa truck gandeng yang menggunakan jalan. Ditemani alunan musik dari headset yang tersambung ke ponsel di saku celana bagian kiri membuat perjalananku tidak terasa sepi. System of A Down, Fort Minor, LP, Avanged Sevenfold memang sengaja aku jadikan playlist agar membuatku tetap terjaga dari rasa kantuk.

Adzan shubuh berkumandang. Saat ini posisiku tepat berhenti di Perempatan Bunder, Gresik. Lampu hijau. Kupercepat laju motor agar tak terlambat jama’ah di Masjid Agung Gresik. Pas. Wih, lepas sholat shubuh ternyata ada ceramah di situ. Tapi aku harus meluncur. Jam setengah lima kutinggalkan masjid hijau berbentuk mirip piramid itu.

Setengah enam. Nyampek di TKP. Wah, ndak telat. Setelah parkir langsung menuju toilet. Kuganti celana jeansku dengan sarung yang sengaja kubawa dalam tas. Kaos dengan baju koko putih. Baju ini adalah hasil ghasab (pinjam sesuatu tanpa izin dari pemiliknya) punya bapak. Hehe.. Abis punyaku di Mlg sih… acara ini kan harus pake baju putih-putih..

Di dalam masjid para kru JTV hilir-mudik mempersiapkan segala sesuatu. Ternyata tayang live toh? Aku duduk di shaf ke-6. Jam 06.00 acara mulai. Tapi Pak Ustadz belum datang. 06.15 masih belum datang. Acara diisi oleh ceramah “ala kadarnya” dari seorang ustadz lokal (lupa siapa namanya :-P ). Berkali-kali beliau mengajak jama’ah untuk bersabar menunggu kedatangan Ust. Haryono. 06.45 Rombongan Ust. Haryono tiba di lokasi. Lantunan ayat Al-Quran melanjutkan acara. Diikuti prolog dari seorang ustadz tentang jihad (sepertinya ustadz dari rombongan). Ceramahnya menyebutkan bahwa berjuang/jihad ada 3 cara: dengan kekuatan, dengan harta, dan dengan do’a. Selanjutnya acara diambil alih oleh Ust. Haryono, Beliau memimpin dzikir dengan bermacam-macam bacaan. Jam delapan dzikir selesai, dilanjutkan dengan do’a. Terdengar isak tangis dari jama’ah. Tidak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata. Doa tersebut sekaligus sebagai penutup acara.

Krucuk2.. Lapar. Mampir ke warung samping kos waktu PKL dulu ah.. Ternyata Si Ibu masih ingat. Lengkap dengan menu yang biasa aku pilih. Wah, ada Si Mbaknya. Makin cakep aja nih.. Kapan nikah Mbak? :-D

Pengennya sih jalan-jalan dulu di sini. Tapi nggak. Kasihan ibu lagi sakit sendirian di rumah. Pulang…

Jam 12 nyampe rumah dengan selamat. Alhamdulillah.. Semoga diterima sebagai amalan yang baik oleh Yang Maha Kuasa. Amin..

Tahun Baru, Ada Yang Baru Thursday, Jan 1 2009 

Tahun baru kemarin lusa menyenangkan, karena aku bisa keluar ma temen-temen. Yah.. meskipun cuma nimbrung meramaikan acara di Alun-alun Kota Lamongan. Tapi sumpah asyik banget, sempat kejadian ada seseorang yang sampai dibela-belain ngebakar sepeda motornya demi ngerayain tuh acara taon baru. Ndak sengaja sih.. Gara-gara adu suara bleyer dengan penyemarak lain, tuh sepeda tiba-tiba menyala begitu saja. Pemilik panik. Sepeda ndak ketulungan. Pulang jalan kaki deh.. Kasian. Untuk tahun baru yang kemarin juga ndak jauh beda asyiknya (meskipun ndak ada yang bakar sepeda motor lagi).

Tapi tahun baru kali ini, garing. Gara-gara tuh kuliah dadakan, aku jadi tahun baruan di Malang. Emang enak yah jadi dosen, bisa minta jam ganti seenaknya. 30 Desember. Huh..! (Ini nih yang bikin aku ndak pengen jadi dosen :-P ). Padahal sebelumnya dah direncanakan bakal tahun baruan di kampung halaman. Emang sih aku akui di Malang lebih ramai, acaranya juga bakalan lebih seru. Tapi dikarenakan ramai itulah kuprediksikan bakal chrowded banget tuh traffic jam. Alhasil. Tahun baruan di kos dah. Nonton sodara Tacir (siapa sih?) nyanyi di AnTV, lanjut film Syahadat Cinta di Indosiar, dan tidur. :-?

Meskipun malam tahun baru ndak istimewa. Tapi semangat akan tetap selalu membara. “Tahun Baru Semangat Baru” dah menjadi pedoman turun temurun :-P . Mm.. kali ini semangat apa ya? Semangat bikin blog.

Sebenarnya sih sejak +-3 tahun yang lalu semangat ini ada, tapi masih sekecil upil. Waktu itu lagi marak-maraknya teman-teman bikin blog. Aku mencoba menjadi air di atas daun talas. Register di wordpress. Tada.. akhirnya aku punya account di wordpress. Tapi emang dasar sudah takdir si upil yang ndak bisa membengkak jadi gajah. Hanya account saja, belum domainnya. Alasanku cuma simple. Males nulis. Bukan cuma males, tapi juga kayaknya kreatifitasku juga secara tidak sengaja sudah aku bunuh perlahan-lahan semenjak lulus dari bangku STM. Buktinya, bikin abstraksi laporan kerja praktek saja aku butuh waktu 1 hari untuk menyelesaikannya. Padahal cuma abstraksi, dan laporan secara keseluruhan sudah selesai (selain lembar abstraksi tentunya). Trus, ngapain daftar di wordpress? Hehe.. cuma ndak pengen username “arihanggara” yang keramat ini kepake orang lain. :-D

Ternyata takdir si upil ndak jelek-jelek amat. Hari ini si upil ikhtiar, dia memutuskan untuk keluar dari hidung dan nyemplung kedalam minyak tanah. Wow, sekarang si upil jadi gigantisme. Kucoba login ke wordpress. wrong password. glodax!. Kugunakan fasilitas forgot password, dan berhasil. Karena si upil sudah bengkak, aku jadi mendaftarkan username-ku menjadi domainnya. Hore… sekarang aku punya blog…!!

Teman-teman… jangan lari! Aku masih berjalan tertatih-tatih nih… Tungguin dong…!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.